Minggu, 03 Oktober 2010

Goo.gl, Penyingkat URL Baru dari Google

Goo.gl, Penyingkat URL Baru dari Google

Jakarta - Layanan penyingkat URL baru bermuncuJakarta - Layanan penyingkat URL baru bermunculan. Salah satunya yang terbaru, Goo.gl, layanan penyingkat URL dari Google. Apa keistimewaannya?

Goo.gl sebenarnya telah ada cukup lama, namun kehadirannya selama ini memang hanya diperuntukkan bagi layanan Google tertentu sepertitoolbar browser Google, layanan FeedBurner RSS, News, Blogger dan Maps.

Nah, kini Google membuka layanan penyingkat URL itu ke publik sehingga lebih banyak orang yang bisa menggunakannya. Untuk menunjukkan niatnya, Google pun membuat situs khusus untuk Goo.gl yang beralamat di http://goo.gl/.

"Goo.gl adalah penyingkat URL yang paling stabil, aman dan cepat di web," demikian Google mempromosikan layanannya itu. Google mengklaim kecepatannya dalam menyingkat URL meningkat dua kali lipat dalam sembilan bulan terakhir.

Sementara untuk urusan keamanan, Google mengatakan penyingkat URLnya memiliki cara kerja yang sama dengan filter yang kerap ditemukan pada Google Search dan Gmail. Dengan demikian, pengguna akan diperingatkan saat merujuk pada tautan berisi malware atau spam.

Mengunjungi situs Goo.gl, pengguna tak hanya bisa menyingkat URL, tetapi juga memonitor trafik yang masuk ke URL yang telah mereka singkat. Asyiknya, di sini Google menyediakan daftar top referrers untuk setiap tautan, lengkap dengan kilas profil pengunjung tautan tersebut.

"Ini akan menjadi cara yang baik untuk memahami lebih baik, siapa saja yang tertarik pada tautan Anda, bagaimana mereka menemukannya dan kapan mereka mengaksesnya," tutup Google.
( rns / ash )
source : detikinet.com

Google Kembangkan Format Gambar 'Pengganti' JPEG

Google Kembangkan Format Gambar 'Pengganti' JPEG

ilustrasi (Google)

Jakarta - Siapa yang tidak curiga kalau Google punya keinginan menguasai dunia? Lihat saja bagaimana hampir semua aspek kehidupan internet mau dikuasai 'sang raksasa putih'.

Mulai dari pencarian, browser, sistem operasi hingga ponsel telah dihadirkan oleh Google. Kini, perusahaan asal Mountain View itu memunculkan sebuah format gambar.

Format bernama WebP itu, secara teori, bisa menggantikan format JPEG. Menurut Google, ukuran file WebP menunjukkan penurunan yang cukup signifikan dibandingkan JPEG. Sedangkan dari sisi kualitas tak terlalu berbeda.

Hasil uji Google, yang dikutip detikINET dari Ars, Minggu (3/10/3010), menyebutkan penurunan ukuran gambar rata-rata mencapai 39 persen.

WebP menggunakan metode kompresi yang sama dengan yang digunakan pada codec video VP8. "Kami menerapkan teknik dari intra frame coding di codec VP8 yang digunakan untuk kompresi frame," ujar Richard Rabbat, product manager di Google.

Untuk containernya, Google menggunakan teknologi yang hanya mengambil ukuran 20 byte per gambar. Meski kecil, lanut Rabbat, container itu cukup untuk menyimpan metadata yang dibutuhkan.

Ars menyebutkan, Google mendapatkan codec VP8 setelah membeli perusahaan bernama On2 pada 2009. Implementasi standar VP8 telah di-opensource-kan oleh Google hingga melahirkan format multimedia bernama WebM.

Meski menjanjikan, penerapan teknologi ini secara praktis harus menunggu dukungan dari browser. Chrome, browser buatan Google, akan mendukung WebP pada versi yang akan datang.

Selain itu, Google telah membuat sebuah patch untuk WebKit. Teknologi WebKit digunakan untuk rendering layout dan halaman web pada Safari, Chrome hingga BlackBerry.

Ingin melihat contoh gambar WebP? Lihat galerinya di Code.Google.com.

( wsh / wsh )
source : detik-inet.com

Disorientasi dan Cognitive Overload pada Hypertext

Hypertext adalah interface pengguna untuk menampilkan dokumen yang berisi referensi-silang otomatis ke dokumen lainnya yang disebut hiperlink. Sebuah dokumen dapat dibuat secara statik atau dinamik. Oleh karena itu, sebuah sistem hiperteks yang dikonstruksi dengan baik dapat menangani, menggunakan atau melebihi banyak interface pengguna lainnya seperti menu dan baris perintah, dan dapat digunakan untuk mengakses kedua dokumen referensi-silang yang dikumpulkan secara statik dan aplikasi interaktif. Dalam hypertext, Penyimpanan informasi dalam format linear tidak banyak mendukung pengaksesan informasi secara random dan browsing asosiatif. Hypertext merupakan metode penyimpanan informasi dalam format non-linear yang memungkinkan akses atau browsing secara non-linear atau random. Dokumen dan aplikasi terdapat secara lokal atau dari mana pun dia berada dengan bantuan jaringan komputer seperti internet. Implementasi paling terkenal dari hiperteks adalah World Wide Web.

Lost in Hyperspace (LiH) adalah sebuah fenomena pada dunia hiperteks yang merujuk kepada kondisi dimana saat seorang pengguna berada pada dokumen tertentu, ia sudah tidak mengerti lagi sedang berada dimana, atau pengguna tidak dapat kembali menuju informasi yang sebelumnya ia akses, atau pengguna tidak dapat mengingat sejauh mana ia telah membaca atau pokok-pokok utama yang telah terbaca. Sehingga seolah-olah pengguna benar-benar merasa tersesat saat berada pada dokumen tersebut.

Dari sisi desain:
Penyediaan overview diagram (sitemap) dan sarana navigasi yang memadai
Overview diagrams atau sitemaps yang memvisualisasikan struktur dan isi dari ruang informasi dan menginformasikan user pada titik mana dia berada, informasi lain yang mungkin relevan serta bagaimana mengaksesnya dapat menjadi tool yang sangat berguna sebagai bantuan orientasi dan navigasi untuk mencegah user mengalami disorientasi yang berujung pada fenomena LiH.

Mengurangi space informasi
Membatasi space untuk menyajikan informasi, dan hanya menyediakan informasi relevan yang dibutuhkan oleh user adalah metode yang sangat lazim digunakan untuk mencegah fenomena LiH. User hanya diberikan rangkuman atau fragment dari sebuah dokumen sesuai dengan tujuannya pada saat bersangkutan.

Pendekatan lain untuk mereduksi fenomena LiH :
Konsep Adaptive Hypermedia
Konsep AH mengusung bahwa hyperlink antar dokumen tidak mesti bersifat statis. Permasalahan dengan static hyperlink adalah, ia “membatasi” pilihan navigasi user dan tidak memperhitungkan apa saja yang telah dilihat user sebelum sampai ke titik tertentu serta tidak memperhatikan jenis presentasi apa yang cocok bagi user bersangkutan. Dalam kasus tertentu kekurangan tersebut dapat membawa user terkena permasalahan LiH. Dengan AH, user, baik environment yang ia gunakan maupun perilakunya dijadikan sebagai faktor yang diperhitungkan untuk menciptakan hyperlink antar dokumen/media.

Memberikan petunjuk saat user mulai “tersesat”
Pendekatan ini melibatkan semacam intelligence system yang dapat mendeteksi saat user mengakses informasi yang kemungkinan besar tidak relevan dengan pattern akses mereka sebelumnya.

Melakukan evaluasi terhadap dokumen hiperteks yang dibuat
Evaluasi ini dilakukan untuk mengetahui seberapa baik sebuah sistem memberikan informasi yang relevan bagi pengguna dan mencegah fenomena LiH. Salah satu pendekatan yang dilakukan untuk melakuan evaluasi ini adalah dengan melakukan simulasi perilaku user saat mengakses dokumen. Adapun metrik yang diukur pada proses ini adalah kinerja user, tingkat cognitive overload user dan tingkat kepuasan user.